MAKALAH
STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
“TEORI
HUMANISME DAN TEORI KONSTRUKTIVISME”
Oleh:
Kelompok 3 Kelas A
Reguler Sore/IV
Hartaguna (E1R115015)
I Gusti Ayu Rarasanti (E1R115021)
Widya Nusywari (E1R115075)
Yaumi Oktari (E1R115077)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MATARAM
2017
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................... ii
A.
Teori
Belajar Humanisme..................................................................................... 1
I.
Tokoh
Teori Humanistik
1.
Teori
Belajar Arthur Combs..................................................................... 2
2.
Teori
Belajar Abraham Maslow................................................................ 2
3.
Teori
Belajar Carl Rogers.......................................................................... 3
II.
Prinsip-prinsip
Teori Belajar Humanisme...................................................... 5
III.
Ciri-ciri
Teori Belajar Humanisme.................................................................. 6
IV.
Aplikasi
Teori Belajar Humanisme................................................................. 7
V.
Implikasi
Teori Belajar Humanisme................................................................ 9
VI.
Kelebihan
dan Kelemahan Teori Belajar Humanisme.................................. 10
B.
Teori
Belajar Konstruktivisme............................................................................. 11
I.
Hakikat Anak Menurut Teori
Belajar Konstruktivisme.............................. 13
II.
Hakikat
Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme................. 15
III.
Ciri-ciri
Pembelajaran secara Konstruktivisme............................................. 17
IV.
Prinsip-prinsip
Konstruktivisme...................................................................... 17
V.
Kelebihan
dan Kelemahan Teori Konstruktivisme 18
DAFTAR PUSTAKA
A.
Teori
Belajar Humanisme
Pengertian
humanistic yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia
pendidikan mengundang berbagai macam arti pula. Dalam artikel “What is Humanistik Education?”,
Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan
bersifat humanistic dalam beberapa kriteria. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa tipe pendekatan humanistik dalam
pendidikan. Ide mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi
humanistik.
Dalam artikel “some
educational implication of the Humanistic Psychologist” Abraham Maslow
mencoba untuk mengkritisi teori Freud dan behavioristik. Menrut Abraham, yang
terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanistik
lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada befokus pada
“ketidaknormalan” atau “sakit” seperti yang dilihat oleh teori psikonalisa
Freud. Pendekatan ini melihat kejadian setelah “sakit” tersebut sembuh, yaitu
bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif.
Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan pada
pendidik yang beraliran humanistik biasanya memfokuskan pengajaannya pada
pembangunan kemampuan positif ini.
Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan
pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif, misalnya
keterampilan membangun dan menjaga relasi yang hangat dengan orang lain,
bagaimana mengajarkan kepercayaan, penerimaan, kesadaran, memahami perasaan
orang lain, kejujuran interpersonal dan pengetahuan interpersonal lainnya.
Intiny adalah meningkatkan kualitas keterampilan interpersonal dalam kehidupan
sehari-hari.
Selain menitik beratkan pada hubungan interpersonal, para
pendidikan yang beraliran humanistik juga mencoba untuk membuat pembelajaran untuk
meningkatkan kemampuan dalam membuat, berimajinasi, mempunyai pengalaman,
berintuisi, merasakan, dan berfantasi. Pendidik humanistik mencoba untuk
melihat dalam spektrum yang luas mengenai prilaku manusia. “berapa banyak hal
yang bisa dilakukan manusia? Dan bagaimana aku bisa membantu mereka untuk
melakukan hal-hal tersebut dengan lebih baik?
Melihat hal-hal yang diusahakan oleh para pendidik
humanistik, tampak bahwa pendekatan ini mengedepankan pentingnya emosi dalam
dunia pendidikan. Freudian melihat emosi sebagai hal yang mengganggu
perkembangan, sementara humanisti melihat keuntungan pendidikan emosi. Jadi
bisa dikatakan bahwa emosi adalah karakteristik yang nampak dari para pendidik
beraliran humanistik. Karena berpikir dan merasakan saling beriringan,
mengabaikan pendidikan emosi sama dengan mengabaikan salah satu potensi terbesar
manusia. Kita dapat belajar menggunakan emosi kita dan mendapat keuntungan dari
pendekatan humanistik ini sama seperti yang kita dapatkan dari pendidikan yang
menitikberatkan kognisi.
I.Tokoh
Teori Humanistik
1.
Teori
Belajar Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967)
mereka mencurahkan banyak pertanyaan pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep
dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu.
Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan
kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh
tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan
mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah
dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan
memberikan kepuasan baginya.
Untuk itu guru harus memahami perilaku
siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila
ingin merubah perilakunya, guru harus
berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal
membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru
membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi
pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah
meyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa
si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut
dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Coms memberikan lukisan persepsi diri
dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat
pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkaran
besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari
persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal
yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
2.
Teori
Belajar Abraham Maslow
Maslow mengemukakan bahwa individu
berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada
diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut
untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut
membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain
seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan
diri, ke arah
berfungsinya semua kemampuan, ke arah
kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima
diri sendiri (self).
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor
aliran psikologi humanistic. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk
memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal
sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki
Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan
atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai
yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Kebutuhan
fisiologis/dasar
b. Kebutuhan
akan rasa aman dan tentram
c. Kebutuhan
untuk dicintai dan disayangi
d. Kebutuhan
untuk dihargai
e. Kebutuhan
untuk aktualisasi diri
3.
Teori
Belajar Carl Rogers
Carl Ransom Rogers dilahirkan di Oak
Park, Illinois, pada tahun 1902 dan wafat di LaJolla, California, pada tahun
1987. Semasa mudanya, Rogers tidak memiliki banyak teman sehingga ia lebih
banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Dia membaca buku apa saja yang
ditemuinya termasuk kamus dan ensiklopedia, meskipun ia sebenarnya sangat
menyukai buku-buku petualangan. Ia pernah belajar di bidang agricultural dan
sejarah di University of Wisconsin. Pada tahun 1928 ia memperoleh gelar Master
di bidang psikologi dari Collumbia University dan kemudian memperoleh gelar
Ph.D di bidang psikologis klinis pada tahun 1931.
Pada tahun 1931, Rogers bekerja di Child
Study Department of the Society for the prevention of Cruelty to Children
(bagian studi tentang anak pada perhimpunan pencegahan kekerasan terhadap anak)
di Rochester, NY. Pada masa-masa berikutnya ia sibuk membantu anak-anak
bermasalah/nakal dengan menggunakan metode-metode psikologi. Pada tahun 1931,
ia menerbitkan satu tulisan berjudul ‘The Clinical Treatment of the Problem
Child”, yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai professor pada fakultas
psikologi di OÄ¥io State University. Dan pada tahun 1942, Rogers menjabat
sebagai ketua dari American Psychological Society.
Carl Rogers adalah seorang psikolog
humanistic yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka
(antara klien dan therapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah
kehidupannya. Rogers meyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas
permasalahan yag dihadapinya dan tugas therapist hanya membimbing klien menemukan
jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para
therapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien.
Menurut Rogers yang terpenting dalam
proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan
pembelajaran, yaitu:
a. Menjadi
manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus
belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
b. Siswa
akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan
pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang
bermakna bagi siswa.
c. Pengorganisasian
bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian
yang bermakna bagi siswa.
d. Belajar
yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom To Learn, ia
menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistic yang penting diantaranya
ialah:
a. Manusia
itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b. Belajar
yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai
relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c. Belajar
yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap
mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d. Tugas-tugas
belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan
apabilan ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e. Apabila
ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai
cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f. Belajar
yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g. Belajar
diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut
bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h. Belajar
inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun
intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i.
Kepercayaan terhadap
diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah, dicapai terutama jika
siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri dan penilaian
dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
j.
Belajar yang paling
berguna secara social di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses
belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan
penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
II.
Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanisme
Pendekatan humanistik menganggap peserta didik
sebagai a whole person atau orang sebagai suatu kesatuan.
Dengan kata lain, pembelajaran tidak hanya mengajarkan materi atau bahan ajar
yang menjadi sasaran, tetapi juga membantu peserta didik mengembangkan diri
mereka sebagai manusia.
Keyakinan tersebut telah mengarahkan
munculnya sejumlah teknik dan metodologi pembelajaran yang menekankan aspek
humanistik pembelajaran. (Alwasilah, 1996: 23) Dalam metodologi
semacam itu, pengalaman peserta didik adalah yang terpenting dan perkembangan
kepribadian mereka serta penumbuhan perasaan positif dianggap penting dalam
pembelajaran mereka. Pendekatan humanistik mengutamakan peranan peserta didik
dan berorientasi pada kebutuhan. Menurut pendekatan ini, materi atau bahan ajar
harus dilihat sebagai suatu totalitas yang melibatkan orang secara utuh, bukan
sekedar sebagai sesuatu yang intelektual semata-mata. Seperti halnya guru,
peserta didik adalah manusia yang mempunyai kebutuhan emosional, spritual,
maupun intelektual. Peserta didik hendaknya dapat membantu dirinya dalam proses
belajar mengajar. Peserta didik bukan sekedar penerima ilmu yang
pasif. (Purwo, 1989: 212).
Beberapa prinsip Teori belajar Humanisme:
1.
Manusia mempunyai belajar alami.
2.
Belajar signifikan terjadi apabila
materi plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu.
3.
Belajar yang menyangkut perubahan di
dalam persepsi mengenai dirinya.
4.
Tugas belajar yang mengancam diri
ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil.
5.
Bila bancaman itu rendah terdapat
pangalaman peserta didik dalam memperoleh cara.
6.
Belajar yang bermakna diperolaeh jika peserta
didik melakukannya.
7.
Belajar lancer jika peserta didik
dilibatkan dalam proses belajar.
8.
Belajar yang melibatkan peserta
didik seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam.
9.
Kepercayaan pada diri pada peserta
didik ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri.
10. Belajar
sosial adalah belajar mengenai proses belajar.
Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme
mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting yaitu: (1). Manusia itu
memiliki keinginan alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu alamiah
terhadap dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan
asimilasi pengalaman baru, (2). Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila
bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan peserta didik, (3) belajar dapat
di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar, (4) belajar secara
partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang
belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri, (5) belajar
atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran maupun
perasaan akan lebih baik dan tahan lama, dan (6) kebebasan, kreatifitas, dan
kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri orang
lain tidak begitu penting. (Dakir, 1993: 64).
III. Ciri-ciri Teori
Belajar Humanisme
Pendekatan
humanisme dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan
yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang
mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan
interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk
memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan
atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam
pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.
Dalam teori
belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya
dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat
laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar
ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari
sudut pandang pengamatnya.Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa
untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk
mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam
mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Ada salah satu ide
penting dalam teori belajar humanisme yaitu siswa harusmampu untuk mengarahkan
dirinya sendiri dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa mengetahui apa
yang dipelajarinya serta tahu seberapa besar siswa tersebut dapat memahaminya.
Dan juga siswa dapat mengetahui mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar.
Dengan demikian
maka siswa diharapkan mendapat manfaat dan kegunaan dari hasil belajar bagi
dirinya sendiri. Aliran humanisme memandang belajar sebagai sebuah proses yang
terjadi dalam individu yang meliputi bagian/domain yang ada yaitu dapat
meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan kata lain,
pendekatan humanisme menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi
terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk itu, metode
pembelajaran humanistik mengarah pada upaya untuk mengasah nilai-nilai
kemanusiaan siswa. Sehingga para pendidik/guru diharapkan dalam pembelajaran
lebih menekankan nilai-nilai kerjasama, saling membantu, dan menguntungkan,
kejujuran dan kreativitas untuk diaplikasikan dalam proses pembelajaran
sehingga menghasilkan suatu proses pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan
tujuan dan hasil belajar yang dicapai siswa.
IV.Aplikasi Teori Belajar
Humanisme
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau
spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan.
Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah
menjadi fasilitator bagi para peserta didik sedangkan guru memberikan
motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan peserta didik. Guru
memfasilitasi pengalaman belajar kepada peserta didik dan mendampingi peserta
didik untuk memperoleh tujuan pembelajaran (Sumanto, 1998: 235).
Peserta didik berperan sebagai pelaku utama (student
center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan
peserta didik memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara
positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya
daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1. Merumuskan
tujuan belajar yang jelas.
2.
Mengusahakan partisipasi aktif
peserta didik melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif.
3.
Mendorong peserta didik untuk
mengembangkan kesanggupan peserta didik untuk belajar atas inisiatif sendiri.
4.
Mendorong peserta didik untuk peka
berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
5.
Peserta didik di dorong untuk bebas
mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang
diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
6.
Guru menerima peserta didik apa
adanya, berusaha memahami jalan pikiran peserta didik, tidak menilai secara
normatif tetapi mendorong peserta didik untuk bertanggungjawab atas segala
resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.
Memberikan kesempatan murid untuk
maju sesuai dengan kecepatannya.
8.
Evaluasi diberikan secara individual
berdasarkan perolehan prestasi peserta didik. (Mulyati, 2005: 182).
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini tepat
untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah peserta didik merasa senang
bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Peserta didik diharapkan menjadi
manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur
pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain
atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
V.
Implikasi Teori Belajar Humanisme
Penerapan teori humanistik lebih menunjuk pada ruh
atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang
diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator
bagi para peserta didik sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai
makna belajar dalam kehidupan peserta didik. Guru memfasilitasi pengalaman
belajar kepada peserta didik dan mendampingi peserta didik untuk memperoleh
tujuan pembelajaran.
Peserta didik berperan sebagai pelaku utama (stundent
center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan
peserta didik memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara
positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru
sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan
belajar dan berbagai kualitas fasilitator, yaitu:
1.
Fasilitator sebaiknya memberi
perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman
kelas.
2.
Fasilitator membantu untuk
memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga
tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.
Dia mempercayai adanya keinginan
dari masing-masing peserta didik untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna
bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar
yang bermakna tadi.
4.
Dia mencoba mengatur dan menyediakan
sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para
peserta didik untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.
Dia menempatkan dirinya sendiri
sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.
Di dalam menanggapi
ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat
intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara
yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok.
7.
Bilamana cuaca penerima kelas telah
mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang peserta
didik yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan
pendangannya sebagai seorang individu, seperti peserta didik yang lain.
8.
Dia mengambil prakarsa untuk ikut
serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan
juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh
saja digunakan atau ditolak oleh peserta didik.
9.
Dia harus tetap waspada terhadap
ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama
belajar.
10. Di dalam
berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali
dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri. (Dakir, 1993: 65).
Ciri-ciri guru yang fasilitatif
adalah:
1.
Merespon perasaan peserta didik.
2.
Menggunakan ide-ide peserta didik
untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang.
3.
Berdialog dan berdiskusi dengan
peserta didik.
4.
Menghargai peserta didik.
5.
Kesesuaian antara perilaku dan
perbuatan.
6.
Menyesuaikan isi kerangka berpikir
peserta didik (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan
segera dari peserta didik).
7.
Tersenyum pada peserta didik. (Syaodih,
2007: 152)
Guru-guru
cenderung berpendapat bahwa pendidikan adalah pewaris kebudayaan, pertanggungan
jawaban sosial dan bahan pembelajaran yang khusus, mereka percaya bahwa masalah
ini tidak dapat di serahkan begitu saja kepada peserta didik.
VI. Kelebihan dan Kelemahan Teori
Belajar Humanisme
1. Kelebihan
Kelebihan teori belajar humanistme
a.
Selalu
mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis, partisipatif-dialogis dan
humanis.
b.
Indicator dari keberhasilan aplikasi
ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan
terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
c.
Siswa diharapkan menjadi manusia
yang bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya
sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
d.
Suasana pembelajaran yang saling menghargai, adanya
kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan.
e.
Keterlibatan peserta didik dalam
berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama
(komunal-bermasyarakat) diantara peserta didik yang tentunya mempunyai
pandangan yang berbeda-beda.
f.
Dalam pembelajaran pada teori ini,
siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
g. Kelemahan
Kelemahan teori humanistik adalah:
a.
Teori
humanistik tidak bisa diuji dengan mudah.
b.
Banyak konsep
dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil
mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.
c.
Psikologi
humanistik mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis.
d.
Siswa yang
tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
e.
Siswa yang tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri
sendiri dalam proses belajar.
f. Proses belajar tidak akan berhasil
jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung.
g.
Sulit diterapkan dalam konteks yang
lebih praktis.
h.
Peserta didik kesulitan dalam
mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
B.
Teori
Belajar Konstruktivisme
Teori
Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat
generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda
dengan teori behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang
bersifat mekanistik antara stimulus dan respon, sedangkan teori kontruktivisme
lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan
pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan
pengalamannya. Menurut teori belajar
konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran
guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun
sstruktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya.
Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap
diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Dengan demikian, belajar menurut teori konstruktivisme
bukanlah sekadar menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan
melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil “pemberian” dari orang lain
seperti guru, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan
setiap individu. Pengetahuan hasil dari “pemberian” tidak akan bermakna. Adapun
pengetahuan yang diperoleh melalui proses mengkonstruksi pengetahuan itu oleh
setiap individu akan memberikan makna mendalam atau lebih dikuasai dan lebih
lama tersimpan/diingat dalam setiap individu.
Sehubungan
dengan hal diatas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori
belajar konstruktivisme sebagai berikut.
1. Peran
aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna.
2. Pentingnya
membuat kaitan gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna.
3. Mengaitkan
gagasan dengan informasi yang baru diterima.
Wheatley (1991: 12) mendukung
pendapat diatas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan
teori belajar konstruktivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara
pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi
bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang
dimiliki anak.
Kedua pengertian diatas menekankan
bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan
sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya.
Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih
mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah
diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang
baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya
proses belajar tersebut.
Selain penekanan dan tahap-tahap
tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury
(1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran,
yaitu:
1. Siswa
mengkonstruktivisme pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka
miliki.
2. Pembelajaran
menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti.
3. Strategi
siswa lebih bernilali, dan.
4. Siswa
mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu
pengetahuan dengan temannya.
Dalam
upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996: 20)
mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai
berikut:
1. Memberi
kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri.
2. Memberi
kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang penglamannya sehingga menjadi
kreatif dan imajinatif.
3. Memberi
kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru.
4. Memberi
penglaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa.
5. Mendorong
siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan.
6. Menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif.
Dalam
beberapa pandangan diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu
kepada teori belajar konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa
dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dlam refleksi
atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain,
siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui
asimilasi dan akomodasi.
I.
Hakikat Anak Menurut Teori
Belajar Konstruktivisme
Piaget
mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang,
melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada
seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan
tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999:
61).
Dari
pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa
pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda
berdasarkan kematangan intelektual anak berkaitan dengan anak dan
lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme.
Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995:
222) mengajukan karakteristik sebagai berikut:
1.
Siswa tidak dipandang sebagai
sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan.
2.
Belajar mempertimbangkan seoptimal
mungkin proses keterlibatan siswa.
3.
Pengetahuan bukan sesuatu yang
datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal.
4.
Pembelajaran bukanlah transmisi
pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas.
5.
Kurikulum bukanlah sekedar
dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.
Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik
yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif. Piaget
menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan
kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang
dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga
pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara
hirarkis (Hudoyo, 1998: 5).
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar
adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern
pada diri pembelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan
perubahan tingkah laku.
Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya
dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau
biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133)
mengemukakan:
Perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap
beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia
akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang
sama, tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari
operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan
penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual,
dan gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan
(equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara
pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Berbeda dengan kontruktivisme
kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky
adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan
sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah
diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam
penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky
adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada
lingkungan sosial dalam belajar.
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme
dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut:
1.
Tujuan pendidikan menurut teori
belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki
kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.
2.
Kurikulum dirancang sedemikian rupa
sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat
dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah
seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam
kehidupan sehari-hari, dan
3.
Peserta didik diharapkan selalu
aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah
berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang
kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
II. Hakikat Pembelajaran
Menurut Teori Belajar Konstruktivisme
Teori-teori
baru dalam psikologi pendidikan dikelompok dalam teori pembelajaran
konstruktivis (constructivist theories of
learning). Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus
mengemukakan sendiri dan mentransformasikan informasi kopleks, mengecek
informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan
itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat
menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan
segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide.
Teorii ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan
informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain, seperti teori Bruner (Slavin
dalam Nur, 2002: 8).
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal
berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental
Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori
perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak
untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir
hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi
dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada
tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi,
1988: 132).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis
pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun
dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan
informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali
struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut
mempunyai tempat (Ruseffendi 1988:133). Pengertian tentang akomodasi yang lain
adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan
ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan
rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).
Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang
menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan
lingkungan sosial. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut
konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan Taylor,1993; Atwel,
Bleicher & Cooper, 1998).
Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin,
1997), yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.
Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak
antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan
pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang
didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang
dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu.
Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan
kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan
dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin
besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1997).
Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada
siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa
petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah
pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan
siswa itu belajar mandiri.
Pendekatan yang mengacu pada
konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial) disebut pendekatan
konstruktivis sosial. Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran
matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil
dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia
(Ernest, 1991). Dalam pembelajaran matematika, Cobb, Yackel dan Wood
(1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio
(socio-constructivism), siswa berinteraksi dengan guru, dengan siswa lainnya
dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan
strategi-strategi untuk merespon masalah yang diberikan.
Karakteristik pendekatan konstruktivis sosio ini sangat sesuai dengan
karakteristik RME.
III.
Ciri-ciri
Pembelajaran secara Konstruktivisme
Adapun
ciri-ciri pembelajaran secara konstruktivisme adalah:
1. Pengetahuan dibangun oleh
siswa sendiri.
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru
ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus,
sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan
situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5. Struktur
pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
IV.
Prinsip-prinsip
Konstruktivisme
Secara garis besar,
prinsip-prinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
1. Pengetahuan
dibangun oleh siswa sendiri.
2. Pengetahuan
tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid
sendiri untuk menalar.
3. Murid aktif
megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep
ilmiah.
4. Guru sekedar
membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5. Menghadapi
masalah yang relevan dengan siswa.
6. Struktur
pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
7. Mencari dan
menilai pendapat siswa.
8. Menyesuaikan
kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling
penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada
siswa. Siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru
dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi
menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan
dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka
sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana
tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat
penemuan.
V.
Kelebihan
dan Kelemahan Teori Konstruktivisme
1.
Kelebihan
Adapun beberapa kelebihan teori konstruktivisme yaitu:
a.
Berpikir
Dalam proses
membina pengetahuan baru, murid berpikir untuk menyelesaikan masalah, mencari
idea dan membuat keputusan.
b.
Paham
Oleh karena
murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih
faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi.
c.
Ingat
Oleh karena
murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua
konsep. Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka.
Justru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi
baru.
d.
Kecerdasan sosial
Kemahiran sosial
diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan
baru.
e.
Senang
Oleh karena
mereka terlibat secara terus-menerus,
mereka paham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sehat, maka mereka akan
terasa senang belajar dalam membina pengetahuan baru.
2.
Kelemahan
Adapun beberapa kelemahan teori belajar konstruktivisme yaitu:
1.
Teori ini membutuhkan
waktu yang lama bagi siswa untuk mengembangkan suatu hal baru yang mereka temui.
2.
Peran guru sebagai
pendidik menjadi kurang mendukung karena disini siswalah yang berperan aktif.
3.
Bagi siswa yang
memiliki semangat belajar rendah, cara ini akan sangat sulit untuk dilakukan.
Karena mereka terbiasa menggantungkan diri kepada orang lain.
Komentar